Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa puluhan anggota dan mantan anggota DPR terkait kasus cek perjalanan pemilihan Deputi Senior Gubernur pada tahun 2004 yang dimenangkan Miranda Swaray Goeltom. Sekitar 12 orang di antaranya langsung ditahan.

Sejumlah anggota DPR dan mantan anggota DPR yang menjadi tersangka dalam kasus suap pemilihan Deputi Senior Gubernur BI tahun 2004 diperiksa penyidik KPK sejak pagi tadi, Jumat (28/1). Mereka yang diperiksa antara lain mantan Ketua Komisi XI DPR Paskah Suzetta, Sofyan Usman dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Agus Condro yang pertama kali membuka kasus tersebut serta Nilu Mardiyani dan Engelina Pattiasina dari PDI Perjuangan. Sedangkan 20 tersangka lainnya diperiksa secara maraton hari ini.

Sekitar pukul 16.30 WIB, sejumlah tersangka yang sudah menjalani pemeriksaan, langsung ditahan. Nilu Mardiyani dan Engelina Pattiasina dari PDI Perjuanga, misalnya. Mereka langsung dibawa dengan mobil tahanan ke Rumah Tahanan Pondok Bambu.

Setelah itu, rombongan kedua tersangka yang ditahan, terdiri 9 mantan anggota DPR periode 1999-2004. Mereka di antaranya Paskah Suzetta (Golkar), Daniel Tanjung, Sofyan Usman, Poltak Sitorus, Sutanto Pranoto, Matheos Formes, Hafis Jawawi, dan M Iqbal serta Martin Briyaseran. Mereka dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

Paskah saat hendak memasuki mobil tahanan terus menuding bahwa penahanan dirinya dan tersangka lainnya sarat politik. Paskah mengaku akan memberikan perlawanan, dengan memberikan langkah-langkah politik. Namun Paskah belum bisa merinci langkah politik yang dia maksud.

Hingga berita ini dibuat, pemeriksaan masih berlangsung. Sedianya KPK memeriksa sekitar 26 tersangka. Namun 3 dari mereka mangkir tanpa penjelasan. Saat ini masih enam tersangka masih menjalani pemeriksaan, di antaranya politisi senior Panda Nababan.

Kehadiran Panda di KPK pun setelah dilakukan penjemputan paksa dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Saat itu politisi dari PDI Perjuangan tersebut hendak mengikuti Rapim PDI Perjuangan di Batam.(Metro TV)

PENANGANAN kasus suap yang dilakukan oleh KPK, memasuki babak baru. Kali ini sebanyak 25 mantan politisi di DPR RI periode 1999-2004 siap dipanggil KPK. Apakah mereka dipanggil untuk dijebloskan ke penjara atau hanya sebagai saksi?

Entahlah. Yang pasti, KPK tampaknya sedang menggebrak. Insting saya, KPK menyiapkan kejutan untuk masyarakat pencinta anti-korupsi. Jika memang benar ditahan, berarti KPK memerlukan 25 ruang tahanan khusus para koruptor.

Hari ini, 28 Januari 2011, sebagianmantan politisi tiba di Gedung KPK, untuk memenuhi panggilan tersebut.  Menurut pantauan Kompas.com, di antaranya adalah Sofyan Usman (PPP), Ni Luh Maryani (PDI-P), Baharudin Aritonang (Golkar), Agus Condro (PDI-P), Paskah Suzeta (Golkar), Daniel Tandjung (PPP), Soewarno (PDI-P), Sutanto Pranoto (PDI-P), Max Moein (PDI-P), Engelina Pattiasina (PDI-P), Poltak Sitorus (PDI-P), dan Matheos Formes (PDI-P).

Kasus ini berawal dari pengakuan mantan anggota DPR dari PDI-P Agus Condro mengenai adanya aliran dana dalam pemilihan Deputi Senior Gubernur BI, yang menyeret sejumlah nama anggota DPR. Ketua Fraksi PDIP, Panda Nababan disebut-sebut Agus Condro, hadir dalam pertemuan dengan Miranda Goeltom.

Bahkan, usai bertemu Direktur Pengaduan KPK Ahmad Wiyagus, Fraksi PDIP sempat menggelar pertemuan dengan Miranda Goeltom di Hotel Dharmawangsa, sebelum waktu pemilihan. Pertemuan dipimpin langsung Panda Nababan Ketua Fraksi PDIP. Agus mengaku, dalam pertemuan tersebut anggota fraksi secara tidak langsung diarahkan untuk memilih Miranda Goeltom.

Agus juga mengaku memilih Miranda pada pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, karena memang diperintah demikian. Tidak tanggung-tanggung, mantan anggota Komisi IX itu juga menegaskan, pengungkapan ini merupakan salah satu tanggung jawabnya kepada reformasi. Apalagi dia menjabat sebagai anggota DPR hasil reformasi 1998.

Meski hari ini dipanggil KPK, Paskah Suzetta yang pernah menjadi menteri, tampaknya gerah. Ia bahkan menyebar psy war untuk melakukan perlawanan. Selain menilai penetapan dirinya sebagai tersangka bersifat politis, mantan Kepala Bappenas ini menilai KPK tidak adil karena belum menetapkan tersangka pemberi suap.

“Saya akan lawan. Oke, kalau ada alat bukti. Sekarang mana itu penyuapnya? Buktikan. Saya tidak pernah berhubungan dengan Miranda. Tidak ada janji dengan Miranda,” kata Paskah kepada wartawan.

Sabarlah, Pak Paskah. Jangan emosi dulu. Bu Miranda sudah dicegah ke luar negeri oleh KPK. Jadi tak mungkin kabur seperti mafia pajak Gayus Tambunan. KPK juga siap menjemput Panda Nababan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Kabarnya, aksi ini sengaja dilakukan KPK, untuk memudahkan jalannya pemeriksaan terkait kasus dugaan suap dalam pemilihan mantan DGS BI, Miranda S Goeltom.

Saya bisa memahami perasaan Pak Paskah dan anggota DPR lainnya. Mereka pasti khawatir dengan ancaman kurungan penjara. Secara psikologis, setiap orang yang sudah lepas dari jabatan, tentunya khawatir saat berurusan dengan hukum.

Setidaknya, marilah kita memegang asas praduga tak bersalah. Kita tunggu hasil penyelidikan KPK hari ini, dan baru menilai secara objektif.

 

Bagi saya, foto ini bukanlah kawanan Bangsa Barbar yang ada di Jakarta. Ini adalah fakta sosial di masyarakat yang harus dipahami dan dicari solusi bersama.

Komplain lagi soal jalan ibukota macet? Bingung cari jalan tikus? Atau marah karena keluhan tak direspon pemerintah? ”Gitu aja kok repot….” mungkin begitu celoteh Alm Gus Dur jika masih ada.

Saat membaca tulisan Kompasianer Choirul Huda berjudul Sore Hari, Jakarta Dihuni Bangsa Barbar. Saat menyaksikan Jakarta pada waktu sore hari, ia benar-benar merasa aneh. Ditengah hiruk pikuk Ibukota yang sumpek ini, ternyata sangatlah jauh dari kata lancar. Hampir setiap jalan utama Ibukota yang selalu dipenuhi antrean kendaraan baik itu motor, mobil, bus, truk serta lalu lalang angkot dan sejenisnya. Aneh bagi Choirul, tapi tidak aneh bagi saya.

Saya pun jadi ingat bagaimana saya harus berjuang mati-matian untuk menghadiri ibadah Natal 2010, karena terjebak banjir dan macet di kawasan Warung Buncit Jakarta Selatan. Di situasi demikian, biasayan emosi pengendara sulit untuk dikendalikan.

Hampir seluruh arus lalu lintas sejumlah jalan protokol di Jakarta benar-benar semrawut di tengah kepungan genangan air. Tak ada petugas polisi yang mengatur, tak ada pula jalan tikus kosong. Aksi para pengendara yang tidak sabar dan saling serobot semakin memperparah arus lalin di segala arah.

Jadi, siap-siap saja kita jadi korban. Ya disenggol pengendara sepeda motor, diseruduk mobil dari belakang karena tak sigap menginjak pedal rem, atau bahkan mobil mogok karena terendam banjir. Di tengah macet pula!

Saya pun pernah mengalami kerugian imateril yang tak ternilai, yakni saya harus membatalkan janji dengan rekan bisnis yang sudah menunggu kedatangan saya. Apalagi, bagi kalangan investor asing, momentum pertemuan yang on time sangat menentukan deal atau tidaknya sebuah langkah awal kontrak bisnis. Jika saya mengeluh ke forum Kompasiana, apakah Pemerintah akan membayar ganti rugi?

Emang gue pikirin,” pasti begitu kata pejabat pemerintah yang baca tulisan ini.

Saat ini, Pemerintah DKI Jakarta sudah mempersiapkan sarana infrastruktur tambahan, sebagai salah satu solusi mengatasi masalah lalu-lintas. Mungkin kebijakan yang dilakukan Gubernur Fauzi Bowo itu kurang populer, karena sedang berlangsung di tengah cibiran masyarakat. Kalaupun nantinya sejumlah ruas tambahan ibukota telah berfungsi, barulah kita para pemakai jalan tahu dan merasa arus lalu lintas lebih lancar.

Namun demikian, hal itu bukan solusi pemecahan masalah. Pemerintah dan instansi terkait harus mampu dan konsisten menjalankan kebijakannya. Jika kebijakan tak dilakukan sepenuh hati dan tak konsisten dijalankan, maka masalah baru akan muncul. Akibatnya, kebijakan tersebut hanya sia-sia belaka.

Bagi saya, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, peduli atau tidak peduli, tapi inilah fakta yang ada di negeri ini. Kemacetan dan kesemrautan lalu lintas bukan sebatas masalah yang dihadapi pemerintah, tapi itu adalah fenomena yang ada di masyarakat.

Saya lebih senang dengan sindiran carut-marut sistem transportasi negeri ini oleh Kompasianer Titin Septiana di tulisan berjudul ”Indonesia Ternyata Lebih Efisien Waktu daripada Jepang”. Di tulisan itu Titin mengungkapkan isi hati seorang warga Indonesia di Jepang, yang rindu atas kesemrautan lalu lintas di Jakarta.

Lantas, masih perlukah kita mengeluh? Jika 10 juta penduduk Jakarta mengeluh ke Bang Kumis, lantas Bang Kumis mau mengeluh ke siapa? Kepada Pak Beye? Jangan-jangan Bang Kumis pun takut kejebak macet jika mau berkeluh kesah ke Pak Beye.

Ini adalah foto Jalan Gatot Subroto di sekitar kawasan Pancoran, Jakarta Selatan yang macet parah usai hujan deras turun 25 Oktober 2010. Foto: Yuniadhi Agung/KOMPAS

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah foto ruas Jalan Jendral Sudirman yang tergenang air saat hujan deras yang mengguyur Jakarta 25 Oktober 2010. Akibat genangan air ini, arus lalu lintas di sebagian ruas jalan tersebut mengalami kemacetan, genangan ini juga menyebabkan sebagian pengguna sepeda motor masuk ke jalur cepat. Foto: Bannar Fil-Ardhi/KOMPAS IMAGES

UFO Itu Ingin Menjemput Gayus?

Posted: January 26, 2011 in Uncategorized

Foto crop circle yang diambil wartawan Tribun Jogja Hendi Kurniawan dengan inzet ilustrasi muladhara yang dibuat Julius Perdana dari komunitas BetaUfo.

JUDUL bombastis di atas sebenarnya bukan sembarang judul. Tulisan ringan ini ‘cuma’ sebuah inspirasi dari celoteh anak saya, Joseph, usai menonton berita di TV tentang fenomena UFO di Sleman Yogyakarta.

”Pa, bisa jadi UFO datang mau menjemput Gayus,” begitu komentar asal-asal usai mengamati crop circle di Dusun Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman. Tayangan visual crop circle di TV itu memang mirip sekali dengan bentuk badan pesawat UFO, yang biasa ia tonton di film-film ala Hollywood.

Saya pun tertawa mendengar komentar anak saya yang kini berusia 6 tahun itu. Tampaknya, ia mulai penasaran berita-berita kelanjutan kasus suap Gayus Tambunan, mulai lenyap dari media massa. Awalnya, ia begitu antusias ketika ‘aksi-hebat’ Gayus berkunjung ke Bali dan luar negeri.

Memang, di dunia maya saat ini sedang meributkan asal-muasal crop circle, kemudian membandingkannya dengan fenomena crop circle di luar negeri. Di lain pihak, ada juga kawan-kawan di facebook dan twitter yang mengganggap crop circle adalah karya seni bikinan manusia.

Warga dari berbagai tempat sudah berdatangan ke lokasi crop circle sejak Senin (24/01/2011). Mereka berusaha sedekat mungkin berada di areal pola geometris aneh itu.

Karya seni yang iseng? Lantas untuk apa iseng, mau bikin heboh masyarakat?

Entahlah, mana yang benar. Crop circle di Sleman memang unik. Dan saking uniknya, media massa memborbardir isu UFO sebagai headline. Baik televisi, radio, media cetak harian dan media sosial internet, kini ramai membahas crop circle alias bekas pendaratan pesawat Alien itu.

Jika memang Alien mau berkunjung ke Indonesia karena mengagumi keindahan alamnya, kenapa harus dilakukan secara diam-diam? Apakah Alien sedemikian takutnya menghadapi publik di Tanah Air, khususnya warga Sleman? Lantas, kenapa tidak mendarat di pegunungan atau perbukitan yang tak berpenduduk, seperti di kawasan Papua misalnya?

Wah, makin pening kepala saya mereka-reka kasus UFO ini. Apalagi, para peneliti kita tampaknya kurang bersemangat menganalisis benar-tidaknya crop circle sebagai bekas pendaratan mahluk asing. Justru yang muncul di hadapan saya adalah interpretasi opini yang melanda publik.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo pun turut berspekulasi. Ia mengaku memiliki pengalaman tahun 2009 saat melihat UFO di Bantul. Saat itu, Dudi tengah naik pesawat Lion Air Boeing 737-900ER nomor penerbangan JT552. Ia melihat 9 titik cahaya serupa awan di bagian pesawat yang ditumpanginya. Sebanyak 3 titik bentuknya padat dan 6 titik lainnya adalah awan.

Dudi saat itu sempat mengabadikannya dengan kamera 40DX lensa Nikkon 55 mm. Setelah dianalisis, ternyata diketahui obyek itu adalah UFO. Ia membantah anggapan bahwa yang dipotretnya cuma bayangan sebab jendela pesawat jernih.

Setelah mengirimkan gambar yang dipotretnya kepada pakar Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewo Salatun, Dudi mengetahui bahwa UFO tersebut sedang mengalami morphing. Wujudnya berubah dari padat ke gas hingga akhirnya menghilang.

Menurut saya, pemerintah dan instansi terkait harus bergerak. Isu hangat seperti ini membuat opini publik tak sehat. Biarkan kasus ini ditangani pihak yang ahli. Masih banyak urusan negeri ini yang harus diselesaikan. Masalah pendidikan, kemiskinan, pengangguran, narkoba, premanisme dan kemacetan lalu lintas, adalah agenda utama yang tak boleh dilupakan. Jangan-jangan crop circle itu sebuah pesan untukcorrupt circle. Hehehe…

So, pemerintah harus tetap fokus! Jangan membahas isu yang tak kontra-produktif. Semakin lama membahas UFO, maka akan menghabiskan banyak waktu, pikiran dan tenaga.

Kembali ke komentar Si Joseph, saya hanya membalas singkat sesuai pikiran anak-anak. ”Ya, mungkin Si Alien itu mau menjemput Gayus supaya jadi Presiden di Planetnya. Maklum, virus korupsi sudah menjalar dan harus ditangani serius”. Maka tertawalah Si Joseph.

 

Sepotong Kue HUT 33 tahun: Ini adalah sepotong kue tar rasa coklat dari Istri Tercinta. Rasanya sangat maknyos karena bertabur kacang/permen m&m dan biskuit Oreo. Saya pun akhirnya minta tambah. Hehehe…

PERJALANAN politik negeri ini memang cukup panjang, bagaikan jalan tiada akhir. Setiap suka dan duka terlewati bagaikan menu hidangan yang disantap tiap hari. Ada yang enak, ada juga yang kurang enak. Bahkan, ada yang terasa pahit hingga sulit terlupakan.

Hari ini saya genap 33 tahun. Hari ini juga, menandai empat tahun saya berkarir secara nyata di dunia politik. Saya cuma anak muda biasa, yang di awal karir politik saya mendirikan partai politik bersama teman-teman muda lainnya se-Indonesia, dan langsung dipilih sebagai ketua umum partai menjelang Pemilu tahun 2009. Saat HUT saya pada 4 tahun yang lalu, saya berdoa agar mampu memikul beban tersebut.

Dan pagi tadi, saya dan Istri Tercinta usai bangun tidur langsung sujud berdoa, mengucap syukur Karunia-Nya sekaligus memohon berkat Tuhan selalu berkelimpahan. Saya tentunya adalah salah satu mahluk yang paling beruntung di bumi ini, karena memiliki istri cantik yang setia dan luar biasa serta dua putra-putri tercinta.

Lantas, apa bedanya hari ini 24 Januari 2011 dengan hari kemarin dan esok hari? Apa pula bedanya hari ini dengan 33 tahun yang lalu? Tentu, secara umum tak ada bedanya. Kemarin, saat ini dan esok atau bahkan masa yang akan datang, hanyalah satu masa putaran bumi yang biasa.

Bencana alam, tetap ada. Hari senang, juga tetap ada. Ada yang sedih, ada pula yang gembira. Semuanya itu hanyalah perbedaan sudut pandang manusia di waktu yang berbeda. Setiap manusia sebenarnya ‘cuma’ berada di titik alam waktu yang berbeda.

Meski tiap manusia dalam alam waktu sebenarnya tak ada bedanya satu-sama lain, tapi bukan berarti kita hanya bertopang dagu mengeluhkan nasib. Atau, karena kondisi lingkungan sekitar yang compang-camping, maka kita hanya menjadi penonton setia tanpa turut bermain di dalamnya. Masing-masing kita memiliki kelemahan, tetapi yang luar biasa adalah masing-masing kita mempunyai kelebihan dan keunikan, gunakan itu menjadi kekuatan untuk melawan keluhan nasib.

Tuhan memberikan waktu. Dan bagi saya, waktu tidak boleh disia-siakan, karena waktu terus berjalan tak dapat berhenti. Tak ada gunanya penyesalan itu, sebab tak mungkin ada mesin waktu yang dapat mengulang kejadian tersebut. Tuhan ingin kita untuk menguasai waktu tersebut.

Mudah-mudahan, tulisan kecil ini bermanfaat bagi kita semua. Setiap masa lalu yang sudah lewat, biarlah berlalu dan menjadikannya pelajaran yang sangat berharga. Ampuni masa lalu yang kurang baik agar kita menjadi lebih ringan mungkin kita tidak bisa melupakannya tetapi kita bisa melupakan rasa sakitnya. Marilah kita jalani hari ini dengan penuh semangat, karena masa depan penuh dengan misteri kebahagiaan.

 

Tifatul Vs Playboy

Posted: January 21, 2011 in Uncategorized

SENYUM Pak Tifatul Sembiring kabarnya lagi sumringah hari ini. Mungkin, ia gembira mendengar kabar, bahwa Research in Motion (RIM), penyedia layanan BlackBerry, sudah mulai memfilter situs-situs porno. Sebelumnya pemerintah memberikan tenggat hingga Jumat pekan ini atau tanggal 21 Januari 2011.

“Alhamdulillah RIM sudah mulai memblokir situs-situs porno dengan menggunakan Nawala. Hari ini situs-situs top ranktidak bisa diakses melalui BB. Ini suatu permulaan yang bagus,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika itu.

Di alamat situsnya, www.nawala.org mengklaim sebagai layanan internet mampu menjadi saringan situs negatif. Bahkan, Nawala punya komitmen untuk membantu menapis jenis situs-situs negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai dan norma sosial, adat istiadat dan kesusilaan bangsa Indonesia seperti pornografi dan perjudian. Selain itu, Nawala Nusantara juga akan menapis situs Internet yang mengandung konten berbahaya seperti malware, situs phising (penyesatan) dan sejenisnya.

RIM memang tak menyebut Nawala sebagai metode filter yang digunakan untuk menyensor konten pornografi di layanan BlackBerry. Menurut Vice President Indonesia Security Incident Response Team on Internet M Shalahuddien, penerapan sensor ini diterapkan secara bertahap.

Sebelumnya beberapa jam lalu saya sempat menulis di kompasiana berjudul BlackBerry dan Playboy. Di situ saya menceritakan, bahwa BlackBerry Torch saya sudah tidak dapat lagi mengakses alamat situsPlayboy. Di tulisan itu saya mempertanyakan kenapa Cuma blackberry yang disensor, sedangkan koneksi internet reguler via komputer dengan menggunakan akses speedy, IM2 atau Fastnet sama sekali tak tersentuh sensor. Dan di saat menulis itu, saya masih bisa membuka alamat situs Playboy.

Tapi alangkah terkejutnya saya setelah memposting tulisan itu ke kompasiana, ternyata alamat situs Playboy sudah diblokir. Bahkan, sejumlah alamat situs yang bernuansa porno, sudah lenyap bagaikan ditelan bumi.

”Cepat sekali ya, cara kerja tim-nya Pak Tifatul. Sepertinya Pak Tifatul rajin membaca berita di kompas.com yang memuat foto layar BlackBerry,” begitu pikir saya.

Kebetulan saya iseng menggunakan software Firefox, dan menuju alamat situs Playboy. Di sana termuat halaman seperti ini:

 

 

 

Saya pun meng-klik beberapa saran yang ada di situ, salah satunya www.playboy.uk. Nah, bisa ditebak! Taburan foto-foto syur menghiasi halaman situs tersebut. Meski tak serupa dengan alamat situswww.playboy.com, alamat situs ini memuat informasi baru tentang selebriti kelas Hollywood yang berbikini-ria hingga yang foto fulgar.

Selain situs www.playboy.uk, masih ada sejumlah saran situs lainnya yang mengarah ke situs-situs mirror. Kasus ini mirip seperti WikiLeaks, yang memiliki alamat-alamat situs di beberapa negara. Mungkinkah teknologi Nawala-nya Pak Tifatul belum mampu memberangus situs Playboy lainnya?

Jawababnnya ya tergantung peran tim sensor Pak Tifatul. Mudah-mudahan, pemerintah mampu melindungi pengguna internet dari media pornografi, khususnya anak-anak. Pekerjaan ini tentulah pekerjaan berat, karena ada jutaan dan mungkin milyaran alamat situs yang harus diblokir secara cermat. Tapi pekerjaan ini akan lebih mantap, jika didukung oleh para pengguna internet.

 

Blackberry dan Playboy

Posted: January 21, 2011 in Uncategorized

Situs Playboy diblokir (Foto: Tri Wahono/KOMPAS.COM)

Sepertinya, Blackberry saya mulai masuk ke zaman batu. Sejumlah situs internet yang mengandung unsur pornografi mulai dibinasakan. Bagi saya, sebenarnya ini bukan masalah, karena tindakan itu untuk mendukung kegiatan akses internet sehat.

Ketika membaca berita di kompas.com berjudul ‘Blackberry Termahal Akhirnya Kena Sensor’, saya melihat ada ilustrasi foto yang bertuliskan ‘Situs yang anda buka tidak bisa diakses melalui jaringan ini.www.playboy.com termasuk dalam situs yang tidak boleh diakses melalui jaringan ini karena terindikasi mengandung salah satu unsur berikut: pornografi, bla-bla-bla…

Dan memang benar, saat saya coba akses melalui BlackBerry Torch saya, muncul layar yang sama seperti di foto berita tersebut. Tapi alangkah kagetnya, ketika saya iseng mengakses situs www.playboy.commelalui laptop dengan jaringan internet di rumah. OMG! (baca: ohemji)

Saya masih bisa melihat aksi perempuan-perempuan cantik berbikini-ria di situs ini. Bahkan, ada cuplikan video sejumlah artis Hollywood yang mengundang birahi kaum lelaki. Ternyata, bukan situs playboy yang belum disensor. Situs porno lainnya, mungkin berjumlah ribuan atau bahkan jutaan situs porno, belum disensor oleh pemerintah. Maaf, saya tidak berani mengungkap alamat situs porno lainnya, karena nanti dikira promosi. Hehehe..

Ternyata situs internet yang berbasis akses reguler seperti speedy, IM2 atau Fastnet belum sepenuhnya melakukan sensor terhadap situs-situs porno. Kalau ditanya, apakah www.playboy.com adalah situs porno atau bukan? Jawabannya ya itu pasti. Karena user yang mengakses situs itu harus orang dewasa atau 17 tahun ke atas.

Dulu, sewaktu saya masih kuliah dan saat itu untuk mengakses internet memerlukan biaya yang cukup mahal, situs-situs porno adalah kegemaran beberapa teman laki-laki. Saat itu sekitar tahun 1998, memang belum ada filter situs porno yang digagas kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi. Dan untuk mengakses situs porno termasuk situs playboy, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi di warnet yang memiliki bilik.

Nah, sekarang zaman sudah berubah. Situs internet bisa diakses dengan menggunakan handphone, termasuk blackberry. Setiap orang bisa mengakses situs apa pun dan dimana pun. Pernah suatu ketika saya melihat pengunjung cafe tampak serius memencet tombol handphone. Saya pun iseng jalan melintas dari belakangnya. Saya melirik layar ponsel NOKIA-nya, dan kembali saya berteriak dalam hati: OMG!

Pria berpenampilan perlente yang berwajah serius tersebut, ternyata sedang asyik menonton cuplikan film porno. Memang, saat ini sangat mudah mengakses situs internet, apalagi banyak cafe menampah layanan fasilitas wi-fii. Ya, inilah dampak dari teknologi tinggi, tanpa disertai dengan penerapan pelajaran budi pekerti.

Saya sempat khawatir, karena akses internet saat ini lebih lambat daripada koneksi bulan lalu. Bisa jadi, ini akibat dampak filter porno yang diterapkan blackberry. Meski Jubir Pak Tifatul Sembiring, Gatot S Dewa Broto meminta para pelanggan BlackBerry tak perlu khawatir, tapi faktanya, Torch saya mulai lemot.

Pemblokiran situs porno di layanan BlackBerry saat ini mulai gencar dilakukan. Apalagi Pak Menteri Tifatul Sembiring memberi deadline sensor pornografi di BlackBerry tanggal 21 Januari 2011. Apakah teknik penyensoran situs pornografi melalui DNS Nawala, akan berlanjut ke ponsel atau koneksi internet basis rumah? Itu kita belum tahu, karena kebijakan dari pemerintah (saat ini) masih pandang bulu.

 

Baru-baru ini, sebagian komunitas warga etnis Batak dihebohkan dengan berita penganugerahan gelar adat dan pemberian marga Batak ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Belum lagi pro-kontra di seputar milis, twitter dan facebook mereda, Istana Negara buru-buru meralat berita tersebut.

Hal yang menarik di sini adalah penolakan sebagian warga Batak atas pemberian marga Siregar ke Pak Beye dan boru Pohan ke Ibu Ani. Khusus untuk pemberian boru Pohan ke Ibu Ani, tindakan ini didasarkan marga Sang Besan Keluarga SBY, yakni Aulia Pohan.

Sebagai orang yang berada di luar sistem komunitas Batak, saya mencoba memahami ‘ketidak-setujuan’ gelar adat dan pemberian marga tersebut. Bisa jadi, lantaran Pak Beye diberi gelar kehormatan tertinggi Batak Mandailing sebagai ‘Paduka Tuan’, maka resmilah Pak Beye menjadi salah satu Raja Adat Batak. Mungkin akibat pemberian gelar itu, maka sebagian orang Batak yang memiliki marga Siregar kurang berkenan jika marganya dicatut. Atau bisa jadi, sebagian komunitas warga Batak di luar marga Siregar, merasa tak ingin ada pihak luar yang mengobok-obok sistem adat di lingkungan keluarga besar Batak.

Karena saya berada di luar komunitas sistem Batak, saya ingin berada di jalan seharusnya dan tak ingin terlibat pro-kontra lebih lanjut. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana jika Pak Beye dan Ibu Ani datang ke Minahasa kemudian diberi ‘marga’ (note: marga jika di Minahasa disebut fam) juga? Mungkinkah ada penolakan serupa?

Jawabannya tentu relatif. Penolakan serupa bisa terjadi, jika Pak Beye dan Ibu Ani tidak mengikuti aturan dan sistem adat yang berlaku di Minahasa.

Tapi, jika Pak Beye dan Ibu Ani sebelum hadir ke Minahasa sudah memberikan sumbangsih bagi kemajuan Tanah Minahasa, maka hal itu bisa berbeda. Apalagi, jika Pak Beye dan Ibu Ani saat hadir dalam acara pemberian gelar adat Minahasa, kemudian menyatakan komitmennya sebagai bagian dari Keluarga Besar Minahasa, maka reaksi positif akan terjadi. Biasanya, faktor kepentingan politik akan dikesampingkan, karena warga Minahasa umumnya bersifat pragmatis.

Menurut saya, tak akan terjadi kasus penolakan pemberian gelar adat dan marga/fam, apabila syarat-syarat anggota baru terpenuhi. Suku Minahasa tentunya lebih antusias menerima tamu kehormatan yang memiliki komitmen jangka panjang, dan bahkan sebelumnya sudah membuktikan apresiasi terhadap adat istiadat.

Seluruh struktur dan sistem adat di Minahasa, tentunya menerima siapapun warga asing, asalkan mengikuti aturan yang berlaku. Apalagi jika yang bersangkutan adalah pemimpin dan negarawan, maka kecil kemungkinan terjadi reaksi negatif. Andaikan demikian, saya dan keluarga besar Kumaat pun siap memberikan gelar adat tersebut.

Mandala ‘Jatuh’ Selamanya

Posted: January 15, 2011 in Uncategorized

Maskapai penerbangan Mandala Airlines, secara mengejutkan tidak akan beroperasi mulai 13 Januari 2011. Entah sampai kapan pesawat-pesawat Mandala dikandangkan. Perusahaan penerbangan Mandala Airlines akan menghentikan layanan penerbangan ke seluruh destinasi di Indonesia. Keputusan drastis itu diambil Mandala karena terbelit masalah keuangan. Pemerintah melalui Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay dan Direktur Utama Mandala Diono Nurjadin saja, tidak tahu. Apalagi saya!

Tapi yang jelas, ini adalah bad news bagi Indonesia.

Bagi saya yang biasa menjadi penumpang Mandala, persoalan utang-piutang Mandala bukanlah masalah publik. Itu urusan internal Mandala, masyarakat tidak akan ikut campur. Tapi, kalau sudah mengganggu urusan masyarakat, nah semua masyarakat berhak menggugat Mandala, lewat class action misalnya.

Sejumlah anggota masyarakat merasa dirugikan dengan berhenti beroperasinya Mandala. Sejumlah biro perjalanan mengaku dirugikan dan bingung bagaimana cara mengembalikan uang tiket pelanggan calon penumpang. Sekelompok penumpang juga khawatir uangnya lenyap, karena terlanjur membeli tiket sebelum pengumuman yang tiba-tiba itu. Bahkan ada calon pengantin yang terpaksa membatalkan acara resepsi, gara-gara tak ada rute penerbangan lain selain Mandala.

”Mandala Airlines is very very bad. Tidak ada komunikasi, tidak ada informasi, semuanya membingungkan. Saya sampai frustrasi,” ujar Robert Gardener, yang merupakan warga negara Selandia Baru. Waduh… Mandala bikin Indonesia di-cap bad service!

Lantas kita sebagai konsumen mau apa lagi?

Biasanya, posisi konsumen di negeri ini paling tidak mengenakkan dan tidak bisa dihargai sebagai mana mestinya. Selalu saja konsumen mendapat layanan bertele-tele, di-ping-pong, disunat, dibohongi dan malah lebih apes ya ditipu habis-habisan. Kalaupun berpikir positif, ya kita harus sabar, mungkin pembayaran ganti-rugi Mandala akan dibayar secara bertahap. Maksudnya, mungkin minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Pokoknya, ya tarsok-tarsoklah! (Baca tarsok: entar-besok, entar-besok, entar-besok).

Dari kasus Mandala ini, saya jadi ingat kecelakaan Mandala dengan nomor penerbangan RI 091 di kawasan Padang Bulan Medan pada 5 September 2005. Kecelakaan terjadi saat pesawat sedang lepas landas dariBandara Polonia Medan. Dari 117 orang penumpang dan awak, hanya 16 orang selamat dan 44 orang di darat turut menjadi korban.

Menurut KNKT, penyebab Mandala jatuh akibat kondisi flap dan slat (alat penambah daya angkat pesawat saat lepas landas) yang tidak turun serta prosedur check list peralatan yang tidak sesuai persyaratan.

Di antara korban kecelakaan yang meninggal dunia termasuk Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin yang rencananya akan bertemu Presiden serta mantan Gubernur Sumatra Utara Raja Inal Siregar. Puluhan penumpang akhirnya dimakamkan secara massa, karena jenasahnya tak dapat dikenali lagi.

Sayangnya, hingga kini tak ada kabar dari Pemerintah dan Mandala, terkait tes DNA yang merupakan kewajiban negara terhadap korban kecelakaan yang tak dapat dikenali. Janji itu disampaikan Hatta Radjasa yang saat itu menjabat Menteri Perhubungan.

Ya, janji tinggallah janji. Banyak pemimpin di negeri ini mengumbar janji, tapi sedikit sekali yang ingat akan janjinya. Itupun janji yang dilunasi karena telah ditagih.

Mudah-mudahan, Mandala saat ini tidak mendarat selamanya, karena Pemerintah dan Mandala menganggap kasus ini cuma soal utang-piutang.

Gus Sholah Bergerak!

Posted: January 11, 2011 in Politik

TANGGAL 11 Januari 2011 tampaknya merupakan angka cantik. Jika diurut menjadi sebuah numerik, maka akan menjadi 11111. Angka ini pun hari ini dimanfaatkan banyak pasangan manusia untuk melangsungkan pernikahan ataupun proses persalinan sesar.

Mungkin momentum ini dimanfaatkan juga oleh tokoh Islam dari Nahdlatul Ulama (NU) KH Salahuddin Wahid atau yang biasa disapa Gus Sholah. Gus Sholah dan sejumlah tokoh lainnya mendeklarasikanGerakan Integritas Nasional (GIN). Acaranya pun digelar siang bolong sekitar jam 1 siang, di saat langit Jakarta terik tersengat mentari.

Tampil di podium adalah pendiri GIN, di antaranya Ahmad Syafii Maarif, Pdt Natan Setiabudi, Putut Prabantoro, Kasturi Sukiadi, Parni Hadi, Wisjnubroto, Theresia Kristianty, Sudrajad, Teguh Santosa dan Gus Sholah sendiri. Pemimpin redaksi harian Kompas, Rikard Bangun, turut menyampaikan buah pikirannya untuk gerakan ini.

Kenapa Gus Sholah mendeklarasikan GIN?

Tampaknya, hati Gus tergerak karena negeri ini menghadapi persoalan bangsa khususnya di kalangan pejabat publik. Persoalan tersebut tak lain adalah masalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang hingga kini masih menjadi konsumsi berita di media massa.

Gus Sholah pun berdalih, bahwa untuk mengatasi persoalan itu diperlukan sebuah lembaga yang secara khusus memperhatikan integritas nasional.

Saya sepakat negeri ini membutuhkan integritas yang kuat. Negara demokrasi memang harus memiliki integritas tinggi, sehingga pelaku kejahatan publik harus menjadi musuh bersama.

Dengan adanya edukasi politik yang dijalankan secara baik, maka publik akan memahami hitam dan putih setiap persoalan bangsa. Seorang Gayus Tambunan yang kini disidik polisi atas dugaan kasus suap, seharusnya dijadikan titik awal pemberantasan korupsi di lingkungan jajaran kantor Kementerian Keuangan RI.

Seorang Gayus tidak boleh menjadi figus pahlawan karena media sudah memposisikan sebagai figur yang teraniaya. Gayus adalah Gayus. Gayus bukan malaikat yang menyamar menjadi srigala di kawanan srigala. Maka sudah sepatutnya seluruh lapisan masyarakat Indonesia memposisikan Gayus di wilayah hitam.

Sedangkan para pendekar (baca: kawanan domba) di wilayah putih, harus didukung. Jika memang aparat penegak hukum terbukti sebagai srigala berbulu domba, ya segera sikat jangan ragu-ragu!

Negara hukum ini harus diperbaiki. Tidak boleh ada unsur abu-abu yang akhirnya dianggap ‘wajar’. Para pemimpin negeri ini harus memberikan edukasi kepada publik, bahwa koruptor adalah musuh bersama.

Mungkinkah GIN yang dimotori Gus Sholah mampu menjawab tantangan ini? Saya cuma bisa berharap demikian. Yang jelas, setiap gerakan moral (moral force) yang dilakukan secara tulus, tentunya happy ending-nya oke punya. Selamat ya,Gus!